Kepercayaan Mutlak
Tuhanku,...
Mungkin di dunia ini hanyalah aku yang berbeda.
Tak selalu ku hembuskan nafasku tanpamu.
Namun ada hal yang tak kukutahui dari diriku.
Engkau, bedakan aku dengan orang lain.
Engkau, beri ujian ini dari yang lain.
Coba sesekali ku menatap langit.
Rasakan getaran-getaran yang berbeda.
Layaknya seorang pendosa yang menunggu ajal.
Tak berbudi luhur dari hatinya.
Coba letakkan aganmu di atas sana.
Mulailah berkata..
Tuhanku...
Apa mungkin, aku harus bersyahadat agar aku tahu.
Apa mungkin, aku membaptiskan diri agar aku tahu.
Apa mungkin, aku mengikuti Pluralisme agar aku tahu.
Apa mungkin, aku harus mempelajari Siddharta Gautama agar aku tahu.
Apa mungkin, aku harus menanyakannya kepada Konfusius agar aku tahu.
Hanyalah kepercayaan yang mutlak yang akan menjawabnya.
Dikala itu, malam telah tiba.
Rintihan hujan, mulai membasahi sepatuku.
Disanalah kumulai berpikir.
Dunia ini sangatlah muna.
Hanya kebajikan yang dapat menjemputku menuju nirwana.
Coba sesekali ku menatap langit.
Rasakan getaran-getaran yang berbeda.
Layaknya seorang pendosa yang menunggu ajal.
Tak berbudi luhur dari hatinya.
Coba letakkan aganmu di atas sana.
Mulailah berkata..
Tuhanku...
Apa mungkin, aku harus bersyahadat agar aku tahu.
Apa mungkin, aku membaptiskan diri agar aku tahu.
Apa mungkin, aku mengikuti Pluralisme agar aku tahu.
Apa mungkin, aku harus mempelajari Siddharta Gautama agar aku tahu.
Apa mungkin, aku harus menanyakannya kepada Konfusius agar aku tahu.
Hanyalah kepercayaan yang mutlak yang akan menjawabnya.
Dikala itu, malam telah tiba.
Rintihan hujan, mulai membasahi sepatuku.
Disanalah kumulai berpikir.
Dunia ini sangatlah muna.
Hanya kebajikan yang dapat menjemputku menuju nirwana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar